Katolik

Masuknya agama Katolik ke Desa Sindang Jati

Agama Katolik mulai dikenal dan dianut oleh sebagian masyarakat Desa Sindang Jati pada sekitar tahun 1949 hingga 1950 , bersamaan dengan perkembangan agama Islam di wilayah ini. Masuknya agama Katolik dibawa oleh para misionaris dan guru dari luar daerah , yang datang untuk melakukan pelayanan pendidikan dan sosial kepada masyarakat desa.

 

Saat ini, sebagian besar warga masih menganut kepercayaan lokal atau tradisional. Pendekatan yang dilakukan oleh para penyebar Katolik meliputi kegiatan pengajaran, pelayanan kesehatan, serta kunjungan sosial, yang bertujuan membangun hubungan baik dan memperkenalkan nilai-nilai kasih serta toleransi dalam ajaran Katolik.

Gereja St. Santo Stefanus

Agama Katolik mulai masuk ke Desa Sindang Jati sekitar tahun 1949–1950 , seiring dengan berkembangnya interaksi masyarakat dengan daerah-daerah luar serta datangnya beberapa keluarga Katolik dari wilayah lain. Penyebaran agama ini berlangsung secara damai dan diterima dengan toleransi oleh masyarakat setempat.

Gereja Katolik pertama yang berdiri di Desa Sindang Jati dikenal sebagai Gereja St. Santo Stefanus , bagian dari Stasi St. Fransiskus Asisi , dan berada di bawah naungan Paroki St. Yohanes Penginjil Keuskupan Agung Bengkulu. Lokasi gereja ini berada di dekat Tugu Simpang Tiga Sindang Jati , yang juga menjadi salah satu titik keramaian dan pusat aktivitas desa.

Sejak awal kehadirannya, umat Katolik di desa ini aktif menjalankan ibadah dan kegiatan sosial. Salah satu peristiwa penting adalah Misa Perdana yang diselenggarakan pada tanggal 17–18 November 2015 , yang dihadiri oleh tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat desa. Acara tersebut menampilkan kerukunan antarumat beragama yang telah lama terjaga di Sindang Jati.

Pada tanggal 1 Mei 2025 , dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Gereja St. Fransiskus Asisi , sebagai bentuk komitmen jemaat dalam memperkuat kehidupan rohani. Gereja ini dirancang lebih luas dan representatif, menandai semangat gotong royong dan toleransi antarwarga yang terus hidup di tengah keberagaman agama.

Lokasi