Adat Istiadat

Adat istiadat di Desa Sindang Jati merupakan kebiasaan dan aturan yang hidup dalam masyarakat, diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Adat ini tumbuh dari nilai-nilai budaya lokal dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari warga desa.

Tradisi ini mencakup berbagai kegiatan seperti sedekah bumi, gotong royong, musyawarah desa, hingga tata cara dalam peristiwa penting seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Salah satu adat khas yang masih dijalankan adalah menyambut tamu penting dengan kapur sirih, sebagai simbol penghormatan dan sambutan hangat ala budaya Rejang. Tradisi kapur sirih ini juga digunakan dalam momen lamaran atau pernikahan, menunjukkan penghargaan terhadap tamu dan pengikat hubungan antar keluarga.

Bagi masyarakat Desa Sindang Jati, adat istiadat bukan hanya sekadar tradisi, melainkan bagian dari identitas dan jati diri. Nilai-nilai seperti kebersamaan, saling menghormati, dan hidup selaras dengan alam sangat dijunjung tinggi. Meskipun zaman terus berkembang, adat ini tetap dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya yang memiliki makna mendalam.

1. Acara 1 Muharram

Tahun Baru Islam, atau 1 Muharram, merupakan momen penting dalam kalender Hijriyah. Di Desa Sindang Jati, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong, peringatan ini dirayakan secara unik dan inklusif oleh seluruh warga, tanpa memandang perbedaan agama.

Setiap tahunnya, masyarakat Desa Sindang Jati mengadakan doa bersama lintas agama dan kenduri akbar dalam rangka menyambut tahun baru Islam. Acara ini menjadi simbol kerukunan dan kebersamaan yang telah lama terjaga di desa ini. Kegiatan diawali dengan pembacaan doa secara bergiliran oleh perwakilan umat Islam, Katolik, Hindu, Budha, dan kepercayaan lainnya, sesuai dengan ajaran masing-masing.

Tradisi ini bukan sekedar bentuk penghormatan terhadap Tahun Baru Islam, namun juga menjadi ruang untuk mempererat toleransi antarumat beragama. Semua warga yang terlibat secara aktif, menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Sindang Jati.

Mengambil Gunungan Hasil Bumi

Setelah doa bersama, warga melanjutkan dengan kenduri atau makan bersama, di mana setiap keluarga membawa hidangan untuk dinikmati secara gotong royong. Suasana kekeluargaan dan kehangatan terasa begitu kuat, mencerminkan semangat persatuan di tengah keberagaman.

Peringatan 1 Muharram di Sindang Jati tidak hanya bermakna keagamaan, tetapi juga budaya. Momen ini dimanfaatkan untuk refleksi bersama, memperkuat hubungan sosial, serta melestarikan tradisi lokal yang menghargai perbedaan sebagai kekuatan.

Inilah potret nyata kerukunan hidup beragama di Desa Sindang Jati desa yang kecil namun penuh dengan nilai-nilai besar: toleransi, persatuan, dan saling menghargai dalam keberagaman.

2. Kesenian Kuda Kepang

Kuda kepang merupakan salah satu kesenian tradisional yang masih dijaga dan dilestarikan oleh warga Desa Sindang Jati. Kesenian ini biasa ditampilkan dalam berbagai acara, seperti peringPertunjukan kuda kepang dimainkan oleh para penari dengan menggunakan kuda dari anyaman bambu yang dihias menyerupai bentuk kuda. Gerakannya lincah, penuh semangat, dan diiringi oleh musik tradisional yang khas. Kadang-kadang, ada juga penampilan yang disertai trance (kesurupan), namun tetap dilakukan dalam batas yang aman

Penampilan Kuda Kepang

Lebih dari sekadar hiburan, kuda kepang punya nilai budaya yang kuat. Ia menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan, membangun semangat gotong royong, dan menjaga warisan para leluhur. Anak-anak muda di

Warga Desa Sindang Jati bangga dengan keberadaan kesenian ini. Selain menjadi daya tarik budaya, kuda kepang juga mencerminkan semangat masyarakat desa yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, dan  kearifan lokal

Hubungi Kuda Kepang Turonggo Jati

WhatsApp ; +62 831-3936-3577